my otobiographi

Standard

Nama saya Nadya Gusnita Sari terlahir dengan normal meski dalam kandungan dalam posisi menyungsang dari rahim seorang ibu bernama Rosita Sari. Posisi sungsang tak mempengaruhi tekat ibu saya untuk tetap melahirkan anak pertamanya dengan persalinan normal dan menolak jauh-jauh tawaran caesar meski harus mempertaruhkan nyawanya. Sebulan setelah melahirkan saya ibu saya masih harus berjalan merambat di tembok karena entah apa saya pernah diceritakan tapi tak ingin mengingatnya karena itu terlalu mengerikan.

Sebenarnya saya terlahir dengan nama Nadya Gusnita tanpa Sari diakhir nama. Gusnita ini sebenarnya ide dari adiknya ibu saya. Jadi GUSNITA itu katanya satuan dari nama ayah-ibu saya, yaitu aGUS daN rosITA. Luar biasa unyu.
Lalu tambahan Sari ini saya kurang tahu muncul darimana. Yang jelas setelah beberapa tahun akta kelahiran pertama dengan nama Nadya Gusnita dibuat, ayah dan ibu saya membuat akta kelahiran baru lagi dengan nama Nadya Gusnita Sari. Kemungkinan Sari itu diambil dari marga turun-temurun kakek saya yang memiliki nama serupa. Iya. Nama kakek saya itu Sari maksudnya.

Jadi saya lahir hari selasa, 07 November 1995 sekitar jam 10 pagi lewat sekian sekian. Di bidan Nining Agus. Cukup jauh dari rumah. Zaman dulu jalan menuju kesana itu super horor kata ibu saya. Kalau sekarang ini, jalannya ramai, selalu macet tiap jam berangkat dan pulang kerja. Perumahan dimana-mana. Cikarang banyak berubah, dan akan terus berubah. Stop bahas Cikarang dan kembali ke tema. Jadi saat melahirkan ibu saya ditemani dengan seorang kerabat dan ayah saya, nenek tidak ikut menemani didalam ruangan karena nenek kerap kali diserang panik berlebihan dan ikut tegang tiap dihadapkan pada kasus-kasus seperti ini.

Okay, back to the topic. 3 tahun setelah melahirkan saya, ibu saya melahirkan makhluk baru di rumah kami, namanya Fajar Ramadhan, diberi nama seperti itu karena dia lahir pada subuh menjelang pagi dibulan puasa. Iya, dia adalah adik saya. Adik satu-satunya karena kami hanya dua bersaudara. Saya sulung, dia bungsu. Ojek pribadi yang tampan luar biasa. Menyebalkan tingkat alien.

Tahun pertama saya sebagai siswi sekolah dasar dihabiskan dengan ngambek-ngambek ala balita yang suka narik-narikin seprei rumah dan lempar-lempar barang. Saya masih 4tahun saat itu. Orang tua saya memutuskan untuk tidak memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak tapi langsung ke sekolah dasar. Saya mengulang sd kelas 1 karena tahun pertama saya sebagai siswi SD dianggap hanya ikut-ikutan. Tapi rasanya ngulang waktu kelas 1sd itu sungguh tidak bagus. Masa kelas 1sd yang pelajarannya gitu gitu aja pakai diulang segala? Itu karena terlalu pandai atau bagaimana ya?

Kisah-kisah cinta monyet juga tumbuh di sekolah dasar. Surat-menyurat identik sekali dengan gaya berpacaran anak sekolah dasar zaman dahulu. Tak ada telepon seluler, tak perlu bingung dengan bagaimana cara membeli pulsa, tak usah risau karena sinyal yang naik turun.

Nilai-nilai saya zaman sekolah dasar ini juga cukup lumayan, beberapa kali dipilih sekolah untuk mewakili lomba CALISTUNG (Membaca Menulis dan Menghitung), lomba yang cukup bergengsi untuk saya saat itu. Selalu ranking dikelas. Saya sempat dua kali pindah sekolah dasar, yang pertama karena orang tua saya menganggap sekolah anaknya saat itu tidak cukup bagus, dan yang kedua dengan alasan yang hampir sama pula. Bisa dibayangkan untuk sekolah kedua yang saya jejaki waktu itu, ada nyaris 60 orang siswa dalam satu kelas. Satu meja bisa dihuni 4 bahkan 5 orang siswa dengan porsi duduk seadanya. Hanya bertahan satu tahun disekolah itu, naik kelas 4 tak lama setelah tahun ajaran baru dimulai ayah dan ibu saya memutuskan untuk mengungsikan anak sulungnya ke sekolah baru lagi. Sekolah Dasar terakhir yang saya jejaki hingga tingkat akhir alias kelas 6SD.

Menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) awalnya ayah saya ngotot ingin memasukkan anaknya ke sekolah dekat rumah, namun saya lebih ngotot tak ingin bersekolah disitu karena merasa pola berpikir saya tak akan berkembang banyak jika bersekolah disitu dan alasan yang kedua adalah karena saya sudah terlanjur mengatakan akan melanjutkan ke sekolah favorit tersebut kepada teman-teman tiap kali ditanya akan melanjutkan kemana, tentu saja alasan yang kedua itu tidak saya beritahukan kepada orang tua saya. Jadi ayah saya mengalah dan mengikuti keiinginan anaknya. Akhirnya saya mendaftar ditemani ibu saya, beberapa guru disana masih hafal dan kenal jelas dengan ibu saya yang dulu terkenal cantik katanya. Beberapa bulan kemudian test dilaksanakan dan saya diterima. Senang rasanya. Orang yang saya kenal saat itu hanya beberapa, karena teman-teman SD saya yang masuk sekolah tersebut bisa dihitung menggunakan 10 jari tangan saja. sisanya berpencar-pencar entah dimana. Kehidupan Sekolah Menengah Pertama saya dijalani dengan penuh rintangan serta badai yang silih berganti menghadang. Angka-angka di rapor tak begitu baik. Sempat masuk tiga besar di kelas 8 kemudian turun melayang lagi dikelas 9. Tahun 2009, saya akhirnya lulus SMP.

Sekolah Menengah Atas! Masa-masa yang sungguh tak akan bisa dilupakan. Segala sasuatu dari yang paling baik sampai yang paling memalukan pernah terjadi di masa ini. Seperti saat SMP dulu, masuk SMA kali ini pula ditentang ayah saya yang ingin sulungnya masuk SMK saja. Saya tentu saja menolak dan dengan gagahnya mendaftarkan diri sendiri kesana yang tentu saja dengan anggukan setuju dari ibu saya. Ayah saya baru mulai menyetujui setelah saya terlanjur diterima disana.

Selalu masuk kelas dengan isi makhluk-makhluk tergenius di sekolah sungguh memaksa saya untuk bekerja beberapa kali lebih keras untuk mengejar agar tidak tertinggal jauh dari mereka. Saya tidak paham benar, dari sudut sebelah mana yang memantaskan dan menempatkan saya untuk sekelas dengan mereka. Beberapa kali menyerah, tapi nilai menyadarkan saya bahwa setidaknya nilai saya masih tetap diatas jika dibandingkan dengan anak kelas lain. Olahraga pada saat itu, masih jadi salah satu pelajaran yang paling saya benci. Entah apa yang terjadi, lari saya selalu jadi yang terlama sejak sekolah dasar dulu. Nilai olahraga dirapor pun angkanya memang ya segitu-segitu saja. Fisika menyusul dikedua, saya anak ilmu pengetahuan alam yang sering sekali kebagian remidial fisika. Ada remidial dibalik remidialnya remidial. Ya namanya juga SMA. Nilai yang lain juga ya seperti itu. Tanpa ranking di sepanjang jalan hidup saya sebagai anak SMA sepertinya sudah sangat biasa. Dan saya hanya bisa pasrah akan hal itu. Ibu saya maklum jika saya ceritakan seperti apa kondisi kelas saya saat itu.

Kisah cinta paling-paling-paling menyenangkan juga terjadi di SMA. Banyak belajar soal cinta saat SMA, tapi masih tetap sering gagal karena saya kerap kali labil. Saya yang sangat-sangat mengharapkan bisa merayakan 17tahun bersama teman-teman saat SMA dibatalkan fakta karena faktanya saya lulus sebelum 17tahun itu datang. Tapi yang jelas ulang tahun ke 15 dan 16 saat SMA lalu tak habis diungkapkan dengan kata-kata rasa bahagianya. Dua benda besar yang saya dapat dua tahun berturut-turut pada saat itu masih menghuni kamar saya dengan luar biasa lucunya. Lulus SMA, pola pikir saya makin berkembang. Makin dekat dengan hari H perpisahan, makin banyak terkumpul memori-memori baru yang rasanya tak akan lekang dimakan zaman. Banyak yang harus dilepaskan dan direlakan, lepaskan teman, lepaskan seragam, lepaskan kenangan, dan lepaskan mantan. Yang terakhir tidak usah dibaca. Kami berpisah memencar berkeliling di universitas negeri maupun swasta yang ada di Indonesia menuju cita-cita masing-masing lalu berjanji akan tetap saling berhubungan via media apapun.

Setelah lulus SMA saya sebenarnya tidak tahu harus mendaftar kuliah kemana dan ambil jurusan apa namun ibu saya dengan berbekal saran-saran dari kakaknya memerintahkan saya untuk mendaftar saja ke kampus tempat saya menuntut ilmu saat ini dan dengan jurusan yang saya ambil saat ini pula. Sempat tidak yakin dengan apa yang dipilihkan ibu saya saat itu sebenarnya, tapi ip semester kemarin menunjukan bahwa pilihan ibu saya memang selalu benar. Dan semoga nilai-nilai selanjutnya akan tetap membuat saya berkata seperti ini.

Dokter, jika ditanya apa cita-cita saya dulu saya pasti akan menjawab kata itu. Karena tak ingin membebani ibu saya dengan request ingin masuk kedokteran saya akhirnya mulai merelakan cita-cita itu sejak awal masuk SMA dan menggantinya dengan cita-cita lain yang sampai sekarang belum saya temukan. Rasanya saya hanya punya ambisi bukannya cita-cita saat ini. Target saya kedepannya adalah lulus kuliah tepat waktu dan tentu saja dengan ipk yang membuat ibu saya menangis haru saking bangganya dengan si sulung. Anak mana yang tak berharap begitu. Lulus kuliah kemudian bekerja dan menjadi manusia sebenarnya. Yang mampu menghidupi diri sendiri serta orang tua dengan hasil keringat sendiri lalu hidup berkecukupan, memiliki keluarga dan hidup bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s